Metode berbicara di depan umum

Metode berbicara di depan umum

Metode berbicara di depan umum

Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum atau presentasi seringkali menjadi hal yang sulit dilakukan. Merasa malu, minder, kurang percaya diri, takut ditertawakan, atau merasa belum layak, adalah alasan yang membuat banyak kesempatan “tampil” lewat begitu saja dan diambil oleh orang lain.

Untuk mengatasi hal tersebut, anda dapat mencoba teknik-teknik berikut:

Pertama, sebelum tampil di depan umum, persiapkanlah segala macam bahan untuk presentasi. Rincilah bahan-bahan apa saja yang akan dibicarakan. Bahan presentasi sebaiknya singkat, padat, dan jelas. Untuk memudahkan anda, tulislah rincian bahan tersebut pada selembar kertas sehingga anda akan lebih mudah mengingatnya. Baca lebih lanjut

Bersenyumlah… Berbahagialah.. **

 
 

Bersenyumlah… Berbahagialah.. **

par Yoanita Aisyputh, mardi 3 mai 2011, 16:28

 

Bismillah…

 

jalan bahagia itu bercabang.

asal kau percaya, tak harus ke utara pun, kau akan bahagia.

jalan bercabang itu, tak harus penuh dengan daun kering yang kau suka; akan membawa bahagia juga—asal kau jeli memilihnya.

 

dan, asal kau percaya. 

 

 

Mengapa kita harus resah? Mengapa kita harus menyusah-nyusahkan diri dengan segala yang ada di dunia? Dan mengapa kita berlama-lama menyesali pilihan yang (rasanya) kurang tepat di sebuah persimpangan?  Mengapa harus bersedih untuk masa silam yang tak akan lagi menjelma di hadapan? Sesuatu sedang menunggu di depan sana, jadi mengapa kita mengkhawatirkan hal-hal yang telah lenyap di belakang sana?

(Itu pertanyaan-pertanyaan ketika saya berpikiran jernih. Yah, terkadang, pikiran saya juga tidak jernih. Namanya juga manusia). :p

 

Hidup ini sangat singkat. Belum selesai kau menghitung langkah, tiba-tiba saja Dia telah lebih dulu menyelesaikannya untukmu. Lalu? Kita pun tak sempat lagi, bahkan untuk menyesal. Jadi, mengapa kita harus resah, mengapa harus menyulit-nyulitkan diri? Hidup itu seni, yang harus kau nikmati dengan cara cerdas. Jika matamu tak jeli melihat liuknya yang indah, kau hanya akan menemukan deretan lima huruf yang membosankan: h.i.d.u.p.  

 

Hidup itu seni-Nya, dan kau butuh lebih dari sepasang mata untuk menemukan indahnya. Mata hati, kau butuh dia. Jika tidak, kau hanya akan lebih dulu mati kebosanan sebelum kau mati dalam muara-Nya. Dan hanya temukan dirimu hanyut begitu saja, tak sempat nikmati liku, yang membahagiakan. 

 

“Hidup ini terlalu berharga jika tidak dilewati dengan penuh kebahagiaan,” tulis sosok pimpinan panutan dalam salam perpisahan dengan saya. 

 

Ya, bukankah tujuan hidup itu untuk menikmati setiap momennya? Kita perlu berlapang dada melewati setiap undak tangga-Nya.

 

Dan, ketika kau lewati dengan berlapang dada, bahkan surga menantimu di Sana. Bahkan, sahabat Nabi pun dibuat iri dengan orang macam itu, yang hanya berlapang dada sebelum dia memejamkan mata menuju tidurnya. Ya, hanya berlapang dada—kalimat sederhana, tetapi sungguh sedikit yang mampu melakukannya. Berlapang dada, sangat berharap saya mampu menyatakan hal itu dalam hidup: agar selalu bahagia. Karena hidup itu singkat. “Karena hidup itu indah,” kata penyair favorit saya.

 

Terkadang, kita resah dengan takdir di depan sana. Sibuk kita mencuri baca guratannya dalam garis-garis samar dalam genggaman kita, berharap takdir memang ada di sana, di dalam genggaman. Kita tetap berlama-lama, padahal telah lama tahu takdir tak ada dalam genggaman. Jadi, untuk apa bersusah-susah “menjaga” sesuatu yang bukan dalam zona jagamu. Menjaganya tetap dalam jalur, sementara kau tak punya kuasa. Hanya nikmati saja. “Let it be,” kata sebuah lagu lawas.  

 

Biarkan Dia yang menggerakkan tali-talinya, kita hanya perlu mainkan peran dengan sebaik-baiknya, sebelum layar ditutup. Agar tak ada sesal. Karena sesal tiada guna, pepatah itu tentu bosan selalu disebut-sebut namanya. 

 

Namanya h.i.d.u.p, ah betapa mulia kita bisa diberi waktu untuk mengenalnya. Mari habiskan dengan bijaksana. Sebelum lonceng berbunyi. Sebelum kita menjadi Cinderella yang tak meninggalkan sepatu kaca. Tanpa berdansa dengan sang Pangeran, pula.

 

Ya, mungkin hidup itu juga bagai Cinderella dengan pukul dua belasnya—lonceng akan berbunyi pada waktu yang Dia tentukan (dan, pukul dua belas kita bisa kapan saja).

 

 

Jadi, mari berdansa dengan sang Pangeran, lalu tinggalkan sepatu kaca. Habiskan waktu yang kita punya sebaik-baiknya.

 

Berbahagialah. 🙂

 

 

*saat senyum terasa tak biasa..Bersenyumlah, 4:11 pm, JOgJA**

Tips-Tips Menghafal Qur’an

Ingin cepat menghafal Qur’an, ini dia tips-tipsnya

  1. Niatkan ikhlas karena Allah
  2. Berpikir bahwa menghafal Qur’an adalah perkara mudah
  3. Menghafal sambil membaca maknanya
  4. Diulang pada waktu mengerjakan shalat
  5. Ketika muroja’ah, usahakan didampingi teman atau guru pendamping
  6. Berwudhu sebelum menghafal
  7. Senang hati ketika menghafal
  8. Sedikit-sedikit asal tetap istiqomah
  9. Usahakan jangan menghafal ayat berikutnya kalau belum hafal ayat sebelumnya.
  10. Mulailah dari surat paling belakang, misalanya Juz 30

Demikian tips-tips dari kami, semoga bermanfaat, amin.